Minggu, 28 Agustus 2016

Ketika Rindu Tidak Tertambatkan

. .

Malam ketika rindu tak tertambatkan dikala itu, terasa memojokan aku dalam kesenduan dan kesendirian. Jiwaku teriris dalam ruang sunyi, sendiri nan mengerikan. Betapa remuk rasaku, betapa kaku citaku, betapa pilu rinduku dan betapa sengsara keberadaan cintaku.

Pagi menjelang, namun mataharinya terus bersembunyi bahkan hingga tiga perempat perjalanan siang. Padahal kala itu musimnya terang, karena biasanya begitu, di Agustus yang selalu mengingatkan cerita kemenangan perang yang melahirkan kemerdekaan. Langit yang enggan melepas awannya, seakan mengekspos hal yang sebenarnya tentang diriku dikala itu.

Pagi itu, masih menyisakan derita kesunyianku tadi malam. Lalu kupaksa mata terpejam dalam harap bisa mengganti mimpi semalam yang terlewatkan. Namun, sesaat mata ini kupejamkan dan belum sempat mencapi gerbang mimpi yang aku harapkan. Langkah sepatu bot yang diiringi salam damai, merampas harapku untuk bisa menggati mimpiku yang hilang tadi malam. 

Ketika rindu tidak tertambatkan

Baiklah, ku biarkan harapan tentang mengganti mimpi terbenam di pagi itu. Dengan semangat yang dipaksakan. Pada sepatu bot itu ku katakan; mari kita taklukan nanda-nada tinggi yang selalu melengking membising di sepanjang siang ini. Brangkaat....

Baca Juga :

Bersama bibit-bibit mungil yang tertawa megah, jeritan baja berbesi yang menari diiringi irama dentuman solar yang terus membakar, Aku melaju melewati jengkal demi jengkal jalan berselimut aspal, menuju negeri yang sangat dekat dengan langit, tempat dimana suara-suara surga akan di lantunkan oleh para syuhada mungil itu.

Purnama di siang itu

Negeri atas awan ini sangat menawan, menyuguhiku dengan berjuta keindahan dari setiap sudutnya. Namun, yang lebih menawan dari itu semua ada rindu yang sempat hilang menambat disana.

Saat suasana padu memacu menyemarakan rindu bersama sahabat lama dalam kegairahan penuh semangat. Purnama itu berjalan mendekat dan sempat menghamburkan cahayanya dengan sempurna tepat diwajahku.

Seakan siang meredup dikala itu, yang sempat merampas harapku akan sebuah mimpi indah mengatakan "tambatkanlah rindumu pada purnama itu dalam kesungguhan" dan sesungguhnya sekejap melepas rindu dengan tatapan berpadu lebih manis dari mimpi tentang 100 tahun mandi madu.

Artikel Terkait


EmoticonEmoticon