Selasa, 23 Agustus 2016

Melihatmu Aku Merinding

Tags
. .

Melihatmu aku merinding. Tat kala kau tawarkan permata kepadaku engkau membawa sepasang duri yang menurutmu lebih indah dari permatamu.

Engkau sering berteriak tentang keagungan, tetapi engkau malah berpaling dari segala keindahan yang bersemayam dikeagunan itu.

Tiada rasa sepertinya didalam rasamu. Hanya deraian keraguan yang selalu menyelimutimu. Padahal disetiap detik dari waktumu kau tiada henti membolak-balik lembaran demi lembaran yang berisi permata indah Nabimu. Atau memang engakau semakin ragu dengan keagungan itu?

Aku semakin merinding melihatmu. Dalam khotbahmu kau sampaikan; hai orang-orang beriman jauhilah dunia, jangan sampai kau terpedaya oleh kekuatannya karna bila kau terpedaya maka kau akan menyesal nanti. Tapi, kamu malah mencerminkan yang sebaliknya.

Merinding sekali melihatmu mengeluhkan setiap kebenaran yang kau impikan dan kamu malah mengelus-elus piringmu yang seharusnya kau berikan kepada kebenaran yang kau harapkan. Atau karena kamu tidak pernah belajar mengenai arti perjuangan yang membutuhkan pengorbanan.

Ingin aku memberikan permataku kepadamu, karena kamu selalu menuntutnya lewat kata yang selalu kau lontarkan kepadaku disetiap pidatomu. Tapi, aku selalu gagal memberikannya kepadamu, karena kamu selalu menutupi pintu istanamu ketika aku ingin masuk dan memberikan permataku kepadamu.

oohhh ... Manusia yang katanya memiliki segudang emas dalam balutan pengetahuan. Mengapa kau biarkan bibit-bibit bidadari itu menangis dalam lobang yang seadanya padahal kau memiliki ruangan yang sangat luas.

Ya sudahlah... terlanjur aku sudah merinding melihatmu. Maka, aku hanya menikmati liukan gerakmu diatas dipan lusuh yang selalu kau anggap hina dan tak memiliki makna.

Artikel Terkait

This Is The Oldest Page


EmoticonEmoticon