.
.
Bersama pagi yang mendung, kaki ini melangkah seperti biasa menuju tempat melepas semua beban kewajiban untuk hari ini. Menelusuri jalan mengular menembus angkuh bangunan-bangunan liar yang memajang lukisan keserakahan, menjadi pemandangan yang kusantap disetiap perjalananku. Bukan karena risih melihat mereka tertawa, hanya saja kekecewaan mengenai janji manis yang tidak kunjung didatangkan.
Menjalani sesuatu yang menjadi kewajiban dengan segenap kesungguhan selalu melahirkan semangat yang membara untuk mencapai target pencapaian dari pekerjaan yang dilakukan. Membangkitkan semangat setiap hamba yang kehilangan arah karena peta pikirnya terperkosa kenyataan dari keserakahan yang mementingkan syahwat fisiknya. Hingga akhirnya para hamba ini menemukan celah untuk melihat jalan sesungguhnya yang sedang mereka lalui setelah ku pinjamkan lentera konsep warisan sang Nabi.
Hakikatnya, bukan saatnya lagi anak bangsa kedinginan, kepanasan, kelaparan, kegelapan diperjalanan pulang, kebasahan, ketakutan dan segala macam kekeliruan dari kebijakan. Tetapi, kenyamanan dalam melakukan berbagai hal demi mengisi kemerdekaan yang sudah dimiliki bangsa ini adalah hal yang paling utama seharusnya diwujudkan oleh semuanya.
Terlepas dari semua itu, masih mengenai kedamaian hati dalam selimut cinta yang didambakan. Ada titik-titik rasa yang selalu mengganjal yang sengaja dirangkai dengan berbagai alunan kasih sayang yang terbang dari mulut-mulut mungil kejujuran. Namun, masih tidak bisa disimpan dalam saku asmara ketulusan.
Melihat bunga itu terkulai, selalu ada rasa didada untuk membuatnya segar kembali. Tetapi ketika bunga itu menegaskan mekarnya, mataku merabun dan tak mampu menatap kesejukannya, karna aku masih mencari bunga lain yang memiliki warna dan kesejukan yang sampai hari ini masih ku harapkan.
Maafkan aku wahai bunga mungil yang menawan, tamanku masih belum bisa kusiapkan karena masih masih mencari bunga hitam yang kemarin sore tidak sengaja aku lihat disudut kesibukan.

EmoticonEmoticon